Karya Tulis Ilmiah Tentang Politik

Berikut adalah karya tulis ilmiah tentang politik untuk memenuhi tugas sekolah ataupun kuliah dengan karya tulis ilmiah tentang politik silahkan bebas untuk sobat download jangan lupa untuk di edit dan di baca untuk mengerti dan memahami isi dari karya tulis ilmiah tentang politik terimakasih telah berkunjung semoga bermanfaat (karya tulis ilmiah politik) Pembacaan Nilai Asli Sebagai Modal Sosial Kecintaan Masyarakat Konsumen terhadap Produk Dalam Negeri


PEMBACAAN NILAI ASLI SUATU PRODUK 
SEBAGAI MODAL SOSIAL KECINTAAN MASYARAKAT KONSUMEN TERHADAP PRODUK LOKAL ATAU DALAM NEGERI 





picture source: http://3.bp.blogspot.com 








Oleh: Beta Chandra Wisdata 




Karya ini berhasil mendapat penghargaan lomba karya tulis se-nasional yang diselenggarakan oleh departemen perindustrian dan menteri perindustrian (fahmi Idris) 
Selanjutnya dapat dilihat di 
http://iatt.dprind.go.id/nominator.html http://iaatt.dprin.go.id/sinopsis.html 

*karya tulis ini dipublikasikan dengan tidak ada footnote untuk selengkapnya hubungi penulis. 
--------------------------------------------------------------------------------------------------------------------- 

KATA PENGANTAR 
Karya tulis ini merupakan pemikiran mendalam mengenai pembacaan nilai asli suatu produk sebagai modal sosial kecintaan masyarakat konsumen. Ditengah kehadiran serbuan produk impor, masyarakat sendirilah yang seharusnya menjadi sistem defensif untuk mengatasinya agar pengembangan mutu produk lokal tidak sia-sia. Penulis mencoba mengembangkan landasan sekaligus mencari akar permasalahan mengenai pola pikir masyarakat konsumen yang tercipta budaya populer selama ini. Oleh karena itu karya tulis kali ini didukung oleh sumber-sumber koran atau majalah ilmiah-populer serta teori-teori yang relevan sebagai penjelas. 

i 
-------------------------------------------------------------------------------------------------------------------- 


DAFTAR ISI 

HALAMAN JUDUL ………………………………………………………………...................................... i 
KATA PENGANTAR …....................................……………………………………………………..…… ii
DAFTAR ISI …..…………………………………………………………………..................................... iii 
DAFTAR LAMPIRAN ……………………………………………………………..................................... vi

I. PENDAHULUAN 
1.1 Latar Belakang Masalah …………………………………………………...................... 1 
1.2 Identifikasi Masalah ………………………………………………………...................... 5 
1.3 Kerangka Teoretik …………………………………………………………........................ 5 

II. ANALISIS DAN PEMBAHASAN 
2.1 Menelusuri Tantangan Pencitraan Budaya Populer ……………………......... 10 
2.2 Penentuan Rasionalitas Citra Nilai Asli Produk ………………………........ 15 


III. KESIMPULAN DAN SARAN .................................................. 19 
DAFTAR PUSTAKA ….................................…………………………………………………….. 23 
LAMPIRAN-LAMPIRAN ……………………………………………………................................. 25 

ii 
------------------------------------------------------------------------------------------------------------------- 


DAFTAR LAMPIRAN 
Lampiran 1. Daftar Riwayat Hidup Penulis 
Lampiran 2. Pernyataan 










iii 
--------------------------------------------------------------------------------------------------------------------- 


I. PENDAHULUAN 

I.1 Latar Belakang Masalah 
Kita dihadapkan pada kondisi serba tak menentu dalam menghadapi persaingan global di masa depan. Keadaan ini menuntut persiapan agar peradaban perekonomian-politik yang tengah dibangun berjalan sebagaimana mestinya. Oleh karena itulah, pemerintah perlu merenungkan secara kritis sekaligus merumuskan kebijakan-kebijakan yang berpengaruh terhadap peningkatan produktivitas nasional. Kebijakan ini tentu meliputi aspek penguasaan ilmu pengetahuan dan tekhnologi, memberdayakan Usaha Kecil Menengah (UKM), menggalakkan proses industri serta menjamin hak kreasi-inovasi hasil produksi. Dengan begitu, peningkatan produktivitas memacu pertumbuhan perekonomian nasional yang menyejahterahkan kehidupan masyarakat. 
Menyongsong tatanan baru ekonomi global, perekonomian nasional seakan menjadi identitas politik keberhasilan suatu bangsa. Bagi negara-negara berkembang, penerapan pasar bebas disadari atau tidak menciptakan kesenjangan pemerataan pembangunan. Secara sosiologis, gaya hidup masyarakat industri memperlihatkan munculnya gejala budaya konsumerisme terhadap ketergantungan hasil produksi luar negeri di tengah-tengah ekonomi pasar. Dalam konteks ini, masyarakat mengalihkan kemampuan daya jual- 

hal. 01 
--------------------------------------------------------------------------------------------------------------------- 
yang dimiliki ke produksi impor daripada produksi lokal. Mudah ditebak apabila produk-produk lokal kurang bersaing di pasar meski telah memenuhi standar kualitas. 
Sejalan dengan itu, pesatnya perkembangan tekhnologi informasi memungkinkan manusia hidup dalam suatu ruang yang dinamakan dunia citra (Heidegger, 2000). Dampaknya, masyarakat terbelenggu dalam mitos “membeli” citra sebagai daya tarik utama baik secara pribadi maupun kelompok. Pengaruh ini dirasakan apabila semangat kebangsaan yang terbangun tergeser oleh hadirnya produk impor. Meskipun tidak bermaksud menghakimi bahwa individu atau kelompok yang cenderung memakai produk impor kurang memiliki rasa cinta tanah air dan bangsa. Namun, dibalik semua itu jiwa-jiwa post-nasionalisme tanpa disadari akan tumbuh yang kemudian diwariskan di benak generasi mendatang. Sebab, pemakaian produk lokal belum menjadi budaya tersendiri di negeri ini. 
Untuk membangun kesadaran masyarakat agar meningkatkan penggunaan produk lokal dibutuhkan jaminan kepercayaan sebagai –meminjam istilah Fukuyama- modal sosial. Sebab, kepercayaan didalamnya menunjukkan kepastian mengenai hakikat nilai lebih kegunaan suatu produk. Posisi tawarnya terletak dari rasionalitas dalam membaca dan menggunakan suatu produk. 
Selama ini, penilaian masyarakat terhadap produk impor didukung oleh tekhnologi dan ciri khas asal negara yang melekat didalamnya. Dilandasi kepekaan negara-negara maju menghadapi era mondial, hal itu kemudian dibakukan dan dijamin oleh hukum. Padahal bukan mustahil, produk-produk 

hal.02 
--------------------------------------------------------------------------------------------------------------------- 
yang dihasilkan negara-negara maju mulanya berasal dari negara-negara berkembang termasuk Indonesia. Oleh karena itulah, nilai tawar produk lokal kurang bersaing karena dianggap mengadaptasi dari nilai asli produk impor. 
Tantangan terbesar bagi pemerintah adalah mampukah memulihkan kepercayaan masyarakat agar menggunakan produk lokal seiring dengan kaburnya pembacaan nilai asli yang telah dibakukan produk impor? Penentuan darimanakah yang dapat membedakan bahwa nilai asli produk impor pada dasarnya adalah kreasi anak negeri? Pertanyaan-pertanyaan ini seakan menjawab ketertinggalan pengakuan mutu produktivitas nasional agar sejajar dengan negara-negara maju. Pada gilirannya, dunia usaha akan pulih dari keterpurukan dengan meraih kepercayaan masyarakat agar menggunakan produk-produk lokal. 
Kajian ekonomi-politik terhadap akar krisis perekonomian nasional terletak dari rendahnya kepercayaan pasar yang berdampak buruk terhadap produktivitas dunia usaha sejak pertengahan 1990-an . Pertumbuhan ekonomi dari tahun ke tahun hanya mengalami kenaikan 1% dari sektor industri. Sebagai negara berkembang, Indonesia kurang siap menyesuaikan kebijakan deregulasi ekonomi dan membangun akses industri yang berpihak pada kebutuhan pasar. Padahal, peran pasar memberi dampak nyata terhadap pembangunan infrastruktur daerah-daerah bukan dari sektor pajak saja. 
Melalui budaya konsumtif masyarakat, pemilihan produk barang dan jasa didasarkan pada pusat pertokoan besar dan modern. Ini diakibatkan ada kesan bahwa mutu produk barang atau jasa melewati proses pengembangan mutu 

hal. 03 
--------------------------------------------------------------------------------------------------------------------- 
impor yang ketat. Paling tidak, di benak masyarakat terdapat gambaran positif mengenai terjaminnya esensi kualitas produk barang atau jasa sebelum memasuki pertokoan besar dan modern. Akibatnya, industri-industri kecil mengalami kegagalan dalam bersaing. 
Doktrin politik setidaknya menandaskan bahwa persaingan sempurna terjadi ketika kekuasaan-kekuasaan kecil mampu dibendung agar pertumbuhan dominan terjadi. Machiavelli dalam Schmandt (2002), mengungkapkan bahwa tindakan kebajikan individu menghalangi menyampaikan perasaan pemenuhan diri. Dalam kaitannya dengan budaya konsumtif masyarakat, pemilahan produk barang atau jasa yang didasarkan pada kondisi tidak realistik mencerminkan terhalangnya kebajikan diri. 
Kesan tindakan itu mengedepankan ego yang menilai bahwa kenyataan produk barang atau jasa dicipta melalui pemahaman subyektif. Secara otomatis pula, pembelian produk impor lebih diprioritaskan daripada produk lokal. Oleh karena kurang dipahaminya makna nilai bahwa dengan membeli produk lokal berarti secara tidak langsung turut berpatisipasi membangun peradaban perekonomian nasional. Demikianlah rasionalitas masyarakat yang tercipta dalam persaingan pasar global akibat budaya populer seiring pesatnya perkembangan informasi-komunikasi. 
Dari gambaran semua itu tampaknya ada kaitan secara langsung antara rasionalitas pembacaan nilai asli suatu produk terhadap kepercayaan masyarakat untuk meningkatkan produktivitas-perekonomian nasional. Maka, penulis mengangkat judul karya tulis ilmiah kali ini adalah “Pembacaan Nilai 

hal. 04 
-------------------------------------------------------------------------------------------------------------------- 
Asli Suatu Produk Sebagai Modal Sosial Kecintaan Masyarakat Konsumen Terhadap Produk Lokal atau Dalam Negeri” 
I.2 Identifikasi Masalah 
Identifikasi masalah kali ini adalah: bagaimanakah merumuskan penentuan pembacaan nilai asli suatu produk di tengah persaingan global sehingga menumbuhkembangkan kecintaan terhadap keunggulan produk lokal atau dalam negeri dan mampu menjadikan sistem budaya tersendiri? 
Untuk dapat memahami bentuk-bentuk pembacaan nilai asli masyarakat konsumen itu kiranya perlu dikemukakan bagaimana pandangannya terhadap produk dalam kaitannya dengan perekonomian nasional. Dengan demikian variabel kunci terletak pada tiga hal yaitu pandangan masyarakat, eksistensi produk dan sistem sosial-budaya. Kemudian ditelaah secara kualitatif dengan sumber-sumber wacana yang -meminjam bahasa sebuah tagline- akurat, tajam dan terpercaya. 

I.3 Kerangka Teoretik 
Salah satu ciri mencolok globalisasi berdimensi ekonomi-politik adalah penanggulangan kebijakan daya saing produk lokal negara-negara berkembang belum memadai dengan percepatan lingkaran kebutuhan masyarakat yang berwajah ganda. Disatu sisi, masyarakat mengharapkan pemerintah, dalam hal ini perindustrian dan dunia usaha, menghadirkan produk lokal berkualitas tanpa meninggalkan kebutuhan terhadap produk impor. Disisi lain, produk-produk impor yang telah membanjiri pasar nasional memiliki tingkat harga bersaing 

hal. 05 
--------------------------------------------------------------------------------------------------------------------- 
dengan produk lokal. Berbagai upaya telah dilakukan baik oleh pemerintah maupun kalangan industri dan dunia usaha untuk memecahkan masalah ini. Namun, pada kenyataannya, langkah yang dilakukan kurang optimal dan belum mengakar. 
Pendekatan yang dilakukan selama ini mengetengahkan pemerintah mengusung kemitraan perusahaan lokal dengan perusahaan luar negeri. Langkah kerjasama pun dilakukan dengan membenahi sekaligus memperbaharui sistem manajemen pemasaran. Misalnya, memberi penghargaan terhadap perusahaan kecil yang memiliki komitmen berproduktivitas ekspor sehingga layak menjadi percontohan industri lain. Bahkan memberikan label standar atau bermutu ekspor bagi produk barang dan jasa agar dikenal masyarakat luas. Kelihatannya, keterlibatan masyarakat sebagai pelaku konsumen produk barang dan jasa sedikit terabaikan. Logika politik setidaknya menjelaskan bahwa masyarakat memiliki “kekuasaan” dalam menentukan pandangan mutu produk barang dan jasa di pasar. Secara teoritis, demokrasi pasar tergantung dari jumlah ketergantungan masyarakat yang kemudian menentukan posisi produk barang atau jasa di pasar. Dengan begitu, materi (baca: produk) bukan lagi menjadi obyek melainkan subyek yang mengatur hasrat naluriah kepuasan akan kebutuhan konsumen. Inilah dasar filosofis kecintaan manusia yang terikat pada penghargaan terdalam terhadap pencitraan nilai sebuah materi. 
Pandangan esensialisme yang dikemukakan oleh para filosof setidaknya menandaskan bahwa keberadaan sebuah benda atau materi memiliki nilai 

hal. 06 
--------------------------------------------------------------------------------------------------------------------- 
“misterius”. Sekilas memang terlihat metafisis. Namun bukan berarti pemaparan rasional-ilmiah tidak bisa dilakukan. Dalam kaitannya dengan produk barang dan jasa, hakikat nilai yang terkandung didalamnya perlu dilakukan pembacaan rasional dengan penulusuran sejarah dan komunikasi-informasi yang logis. Kode-kode pemaknaan dipandang melalui pengalaman obyektif. 
Sejauh ini, upaya memahami makna yang melekat dalam diri obyek sebagai subyek diiwujudkan dalam bentuk kesadaran semu. Menurut Huserl (2003), kesadaran tidak ditemukan dalam diri manusia tetapi dari hubungan antara subyek dan obyek. Secara harfiah, dapat ditafsirkan bahwa kecintaan masyarakat konsumen terhadap produk “mem-bahasa-kan” aktivitas gaya hidup dan perilaku sehari-hari. Sebagai sarana penunjang, karakteristik nilai menetapkan kesadaran perilaku manusia memenuhi kebutuhan ego. Walaupun, konsepsi ego dalam kalangan psikoanalisis dipengaruhi kondisi-kondisi sosial dan budaya karena mengekspresikan gejolak-gejolak kebutuhan. Namun, sarana itu diuji lewat komunikasi dan rasionalitas kebahasaan dengan kriteria-kriteria khusus di tengah pasar. Apabila penilaian dipandang negatif tentu akan menimbulkan sinisme publik terhadap produk barang atau jasa. Oleh karena itu dibutuhkan pendekatan strategi pembuka wacana rasionalitas masyarakat terhadap produk barang atau jasa. Dengan demikian, masyarakat secara berangsur-angsur akan mampu menelaah mengenai pencitraan mutu produk barang atau jasa. 
Penelaahan pencitraan mutu produk dilakukan melalui media informasi komunikasi massa yang membentuk gagasan kesadaran kolektif. Titik 

hal. 07 
--------------------------------------------------------------------------------------------------------------------- 
perhatiannya ditujukan bagi masyarakat yang dilihat sebagai interpersonal (antar pribadi) agar memahami dan menginterpretasikan informasi produk (McQuail, 2005). Ruang lingkupnya adalah hubungan timbal balik dengan lingkungan sekitar pembentuk kesadaran pola pikir. 
Masih dalam kerangka pemikiran McQuail, masalah itu harus dapat menjawab persoalan bagaimanakah terjadinya proses pengkomunikasian-penyadaran? Apakah konsekuensinya terhadap pemasaran produk lokal? Menyangkut masalah apa media pembuka kesadaran rasionalitas pembacaan nilai produk? Lantas akan dibawa kemanakah kesadaran setelah terbentuk gagasan baru di masyarakat? 
Persoalan-persoalan itulah yang dapat memaklumi bagaimana gerakan membangkitkan kecintaan masyarakat konsumen terhadap produk lokal barang atau jasa yang masih berjalan di tataran wacana. Padahal, banyak pihak menuntut agar pemerintah segera melakukan gebrakan perubahan kebijakan mengangkat industri lokal. Oleh karena permasalahan komunikasi massa pembuka pencitraan mutu produk bersifat komprehensif, maka diperlukan pengembangan adaptasi informasi. Sebab, pengadaptasian didasarkan tekhnologi semata bukanlah ringkasan pengalaman nyata yang selalu dapat dipaksakan pemaknaannya. 
Melalui pendekatan informasi yang ringkas dan logis yang tidak hanya dilakukan media cetak maupun elektronik. Melainkan meliputi lokasi-lokasi strategis yang mampu ditangkap masyarakat secara kasat mata. Ini dikarenakan budaya pencitraan populer yang berjalan cepat, pemerintah mau tak mau segera 

hal. 08 
--------------------------------------------------------------------------------------------------------------------- 
mengubah pemikiran dan pemahaman tentang produk yang tertanam di benak masyarakat selama ini. Namun perlu digarisbawahi, strategi pembuka wacana rasionalitas tentang nilai dan mutu produk tidak dipahami sebagai pemanfaatan media komunikasi massa secara politis. Sebab, pemahaman rasionalitas itu sendiri membuka pembelengguan mitos-mitos yang berkaitan dengan pencitraan berlebihan terhadap produk impor. Dengan kata lain, rasionalitas berupaya mencerahkan ungkapan pikiran terdalam masyarakat mengenai pemaknaan kenyataan suatu produk. 
Apabila kita menelusuri lebih dalam, nilai sifat-sifat alamiah produk masih melekat. Hanya saja bentuknya mengalami perubahan sehingga identitas yang diemban memiliki intrepretasi pemaknaan baru. Jelaslah kemudian, peninjauan kenyataan suatu produk dilihat sebagai pencarian atau melacak asal usul historis sebelum mengalami terobosan-terobosan kreatif dan inovatif. Sebab, sebuah produk dapat dikatakan ber-nilai tinggi jika telah menyatu dengan kebutuhan dasar yang melebihi dari segi asas kemanfaatan. Itulah kebermaknaan suatu produk bagi masyarakat konsumen yang perlu digali lebih dalam. 
Untuk itu diperlukan pemahaman baru mengenai wacana rasionalitas produk yang berkembang saat ini. Namun sebelum membahasnya lebih lanjut, penulis berhipotesa –agar pemaparan dapat diterapkan di lapangan- bahwa latar belakang kedudukan sosial dan status sosial masyarakat tidak berpengaruh ketika berhadapan budaya populer. 

hal. 09 
--------------------------------------------------------------------------------------------------------------------- 


II. ANALISIS DAN PEMBAHASAN 

II.1 Menelusuri Tantangan Pencitraan Budaya Populer 
Langkah terbaik untuk menjelaskan mengapa masyarakat kurang tergerak ketika pemerintah mengusung tema membudayakan gerakan cinta terhadap produk lokal terletak dari kekeliruan membaca pola pikir rasionalitas kebutuhan pasar. Sebagaimana dijelaskan dalam bab kerangka teoritik sebelumnya bahwa pola pikir masyarakat konsumen terhadap mutu produk barang atau jasa diciptakan oleh pencitraan budaya populer tanpa melihat penelusuran proses awal produksinya . Dengan memperhatikan secara seksama bahwa kebutuhan terhadap produk barang atau jasa bukan didasarkan penilaian status kharismatik yang diberikan pada jargon-jargon pada iklan media cetak maupun elektronik. Melainkan lebih merupakan keterikatan secara emosional terhadap kebutuhan suatu produk. 
Pertanyaannya sekarang mengapa produk impor mampu menarik perhatian masyarakat dibandingkan produk lokal? Persoalan ini terletak dari kemampuan produk impor membidik arah dan sasaran citra ego masyarakat 

hal. 10 
-------------------------------------------------------------------------------------------------------------------- 

melalui sarana imaji informasi. Produk-produk impor mengedepankan pengetahuan dalam wujud informasi pembentukan opini publik sehingga menyentuh kesadaran kolektif. 
Akibatnya, masyarakat seakan-akan terpuaskan setelah mendapatkan produk impor itu yang kemudian membentuk perilaku berulang-ulang dan menjadi budaya tersendiri. Inilah problema pelik yang tidak disadari ketika kesepakatan AFTA, G-33, APEC dan WTO diberlakukan . Negara-negara yang masyarakatnya belum mampu menelaah serbuan pencitraan produk secara realistis dan bersikap pragmatis terhadap produk impor tentu menjadikan ketergantungan . Meskipun kebijakan kuota impor diberlakukan, hal itu tidak menjamin menurunnya tingkat ketergantungan. Sebab, daya tarik dan popularitas produk impor telah melewati proses penanaman kesadaran di masyarakat selama bertahun-tahun. 
Jepang, misalnya, telah melancarkan kegiatan produksi sejak pasca-perang dunia kedua berakhir. Program pengenalan hasil produksinya kepada masyarakat luar dilakukan melalui penyebaran informasi mengenai kelayakan 

hal. 11 
------------------------------------------------------------------------------------------------------------------- 
kebutuhan masyarakat terus-menerus. Dampaknya tentu dapat dirasakan akhir-akhir ini. Kebanyakan masyarakat telah terjebak prasangka dan mudah menggenalisir bahwa produk impor adalah terbaik dari segi esensi dan kualitas. 
Untuk mengatasi hal tersebut, pemerintah menawarkan produk lokal dengan melewati pengujian standar kualitas ekspor didukung tekhnologi dan Sumber Daya Manusia (SDM) berkualitas. Ini tentu menjadikan masyarakat kebingungan dan bertanya-tanya mengenai acuan yang jelas karena kepekaan terhadap mutu produk barang atau jasa. Mudah dipahami jikalau masyarakat cenderung memilih produk impor akibat kurangnya pengelolaan informasi logis mengenai pencitraan produk lokal. 
Pada prinsipnya, informasi logis dapat mengontrol penggambaran citra berlebihan terhadap produk impor. Sebagai contoh kasus makanan cepat saji MC Donald dan KFC (Kentucky Fried Chicken) yang beredar di pasaran belum tentu memenuhi standar kesehatan. Pemerintah didampingi para ahli perlu mengkampanyekan resiko makanan cepat saji mengenai minimnya gizi yang terkandung akibat zat pengawet di makanan cepat saji. Sebab, tidak menutup kemungkinan, produk lokal jauh lebih higienis dan memenuhi gizi yang dibutuhkan dalam metabolisme kesehatan individu. 
Jika kita memperhatikan dunia komoditas dewasa ini, nilai estetis sebuah produk digambarkan dalam dialog komunikasi antar budaya. Internet, televisi dan media massa menyediakan beragam jawaban yang seakan-akan mampu menjawab kegelisahan kebutuhan masyarakat. Praktik budaya konsumsi yang dilakukan oleh iklan melalui pengadaptasian dan penayangan tekhnologi 

hal. 12 
--------------------------------------------------------------------------------------------------------------------- 
menanamkan fantasi-fantasi. Misalnya, seseorang tidak akan mampu menunjukkan jati diri sebagai laki-laki apabila belum menggunakan produk pengharum impor. Atau, citra perjuangan nilai-nilai feminis dan kesetaraan gender seakan belum terwujud bila wanita tidak melengkapi secara utuh dirinya dengan menggunakan produk kecantikan luar negeri. 
Apabila dijelaskan dalam sosiologi komunikasi, contoh kedua fakta tersebut menunjukkan bangunan sensasi wacana yang dibentuk memarjinalkan batas-batas kemampuan intelektualitas masyarakat. Berbagai simbol yang ditampilkan mengajak cara berpikir masyarakat membenarkan realitas atau peristiwa. Dalam bahasa antropologis, kesempatan masyarakat mengenal dirinya sendiri dibudayakan sesuai pola pikir bahasa-bahasa iklan. Bila demikian, masyarakat hanya dijadikan target pasar semata. Oleh karenanya tak heran sentra-sentra ekonomi di sejumlah wilayah bahkan pelosok pedesaan mulai bermunculan dengan hadirnya Mall dan pusat-pusat perbelanjaan lengkap . 
Menariknya, hampir 90% pasokan barang-barang pertokoan kecil maupun pertokoan besar didominasi oleh produk-produk impor. Mulai dari barang-barang pangan ringan (seperti snack), papan sampai barang-barang kebutuhan kamar mandi pun dikuasai oleh produk-produk impor. Ketika masyarakat mengkonsumsi produk-produk ini tanpa disadari telah memunculkan kilas balik 

hal. 13 
--------------------------------------------------------------------------------------------------------------------- 
pencitraan ulang akibat membiasakan diri ketergantungan terhadap produk impor. Apalagi, kesan prestise atau gengsi dikondisikan dengan maraknya produk impor disekitar masyarakat konsumen melalui sensasi wacana-informasi. 
Maka tak heran pusat-pusat perbelanjaan dan pertokoan memanfaatkan produk impor untuk menaikkan prestise di mata masyarakat dengan slogan-slogan budaya konsumen. Secara tidak langsung, pertokoan berperan dalam membentuk kilas balik pencitraan ulang yang kemudian semakin menjadikan ketergantungan terhadap produk impor. Disinilah dualitas budaya populer yang terjadi dari masyarakat secara personal dan masyarakat konsumen dengan lingkungan sosial pembentuknya . Pada gilirannya, masyarakat konsumen maupun pertokoan menentukan arah, eksitensi dan penilaian produk impor sesuai hukum permintaan-penawaran. Melalui kekuasan ini, kita seolah-olah tidak tahu perubahan dan resiko apa yang selanjutnya terjadi setelah menjadi bagian budaya masyarakat sehari-hari. Namun, disini ada pemahaman mengenai konteks kehidupan masyarakat konsumen yang sesungguhnya semakin termarjinalkan oleh penghambaan nilai lebih dan posisi tawar produk impor. 
Terlepas dari persoalan sosio-ekonomik, kematian refleksi masyarakat konsumen tampaknya diperdaya oleh penipuan keyakinan akan ego pemenuhan 

hal. 14 
--------------------------------------------------------------------------------------------------------------------- 

kebutuhan diri . Pergulatan ini tentu perlu diarahkan sebelum pemerintah mengeluarkan produk lokal berkelas dunia sekalipun. Sebab, pencitraan positif produk impor yang berlangsung cukup lama akan menghalangi daya saing produk lokal di pasar domestik. 
Padahal, alangkah tidak bijaksana pencarian ekspresi diri diwujudkan pada kebendaan yang bukan tercipta dari bagian tanah kelahiran. Pandangan ini bukan berarti pengabsahan kesan romantisme-natural bahwa masyarakat konsumen harus dan selalu meraih kemuliaan dengan mencari pengikatan diri terhadap esensi produk nasional. Namun demikian, dengan memilah kebutuhan pada produk-produk lokal setidaknya mampu membawa harga diri agar tidak terjerumus arus budaya populer. Sebab, menggantungkan citra diri pada pretise produk impor membawa masyarakat konsumen pada logika tertutup. 

II.2 Rasionalitas Penentuan Citra Nilai Asli Suatu Produk. 
Hadirnya produk-produk impor yang saat ini mulai dikuasai oleh Republik Rakyat Cina (RRC) disamping Jepang dan Amerika-Eropa setidaknya melewati proses mendesain nilai output dan input. Paradigma efisiensi setidaknya menunjukkan pengubahan dilakukan agar nilai tambah dapat diraih sesuai efektifitas pembentukan citra selera pasar. Yaitu mengubah kemasan praktis produk impor yang diselaraskan sejalan dengan budaya lokal melalui sudut pandang kebahasaan. Disadari atau tidak, produk-produk asing yang meraih simpati di masyarakat justru mengunakan brandame ke-indonesia-an seperti 


hal. 15 
--------------------------------------------------------------------------------------------------------------------- 
Java Coffe dan lain-lain . Kecenderungan budaya kurang cermatnya sensor evaluasi pemerintah atas masalah sepele itu membawa pembacaan dari sudut pandang label nama produk kurang bermakna. Padahal, apabila dicermati lebih dalam, tidak menutup kemungkinan nilai kualitas produk lokal jauh lebih baik mengingat potensi Sumber Daya Alam yang dimiliki negara kita. 
Dilatarbelakangi fenomena tersebut, negara-negara modern yang menguasai pasar global mengimpor produk lokal yang bernilai jual tinggi sebelum kemudian dipasarkan ke luar. Tercatat pada tahun 2000, Amerika Serikat, Jepang, Malaysia, Hongkong dan negara-negara kawasan Timur mengimpor produk-produk kesenian termasuk bahan baku komoditas (www.suaraekonomirakyat.id). Bahan baku komoditas ini diantaranya kayu, tekstil, garments, makanan olahan dan karet yang jika dialihfungsikan melalui kemampuan tekhnologi dipadu kontrol pemprosesan menjadi barang-jadi oleh SDM berkualitas akan menghasilkan produk komersial . 

hal. 16 
--------------------------------------------------------------------------------------------------------------------- 
Dilihat dari dampak pola konsumsi, hal itu memberikan langkah positif karena menghidupkan kondisi perekonomian nasional dengan ”menghargai” nilai tawar produk lokal. Akan tetapi, kreativitas tekhnologi dan daya inovatif dalam mengubah hakikat nilai produk kemudian dilemparkan ke pasar menciptakan masa eksploitasi. Dengan kedatangan produk-produk impor kedalam negeri yang telah didesain sedemikian rupa, wawasan kebutuhan masyarakat konsumen menempatkan ketidaksadaran dan ketidakmengertian akan menelaah kualitas nilai asli. Pemanfaatan ini memberdayakan ketidakpastian nilai kualitas produk impor karena awalnya berasal dari dalam negeri jika ditelusuri lebih jauh. 
Apabila kita menyimak produk tekstil dari RRC dan Hongkong terdapat ciri khas yang menentukan bahwa kain itu memiliki struktur dan gestur yang nyaris sama dengan produk lokal . Oleh karena rendahnya pemahaman masyarakat konsumen dan kuatnya pengaruh budaya populer, mutu produk nasional dianggap jauh dibawah standar produk RRC. Sebagaimana kita ketahui bersama, nilai praktis produk garmen RRC adalah harga yang terjangkau serta menjanjikan desain yang setara produk Amerika-Eropa. Pada umumnya, masyarakat perkotaan menyenangi bentuk pengemasan produk yang praktis 

hal. 17 
--------------------------------------------------------------------------------------------------------------------- 
budaya populer ini, sebuah terobosan besar berlangsung apabila formulasi barang disetarakan dengan produk barat. Secara etis, pemberlakuan hak cipta terhadap pengubahan nilai output seakan tidak berlaku lagi. 
Dalam analogi dapat diambil sebuah rumusan bahwa (Esˆ= S + K) yang menjelaskan rekayasa citra esensi nilai . Dalam tipe stabilitas nilai tukar, maka produk garmen RRC memiliki pembacaan ideal. Oleh karena, produk yang dihasilkan mampu meraih keuntungan ketika dipasarkan dibandingkan produk domestik. Bagi dunia industri, produk garmen dianggap beresiko tinggi karena tidak terhindarkan dari spekulasi pasar terutama sejak kehadiran produk impor. 
Kesepakatan pakta perdagangan yang dilakukan oleh negara kita adalah kurang mengantisipasi pengkategorian produk ’diekspor ulang’ oleh negara luar (www.asiamedia.ucla.edu). Sebagian besar produk-produk impor itu kemudian dikonsumsi oleh masyarakat konsumen. Penting kiranya pemerintah menemukan simbol-simbol kebahasaan dan ciri khas lokal agar produk impor itu benar-benar dapat dipertanggung jawabkan bagi kebutuhan publik. Dengan melakukan pembacaan nilai asli diatas setidaknya mampu menjadi kunci 

hal. 18 
--------------------------------------------------------------------------------------------------------------------- 
sekaligus langkah awal dalam membentuk karakter dan jati diri kebangsaan masyarakat dalam negeri. Bila demikian masyarakat konsumen mencintai produk lokal sehingga akan menjadi tuan rumah di negeri sendiri. Dampaknya pertumbuhan perekonomian nasional kembali bergairah. 















hal. 19 
-------------------------------------------------------------------------------------------------------------------- 
III. KESIMPULAN DAN SARAN 

Kesimpulan kali ini adalah pencitraan produk yang dibawa oleh budaya populer perlu diberikan wacana rasionalitas agar masyarakat dapat menelaah nilai asli didalamnya. Potensi-potensi penentuan nilai asli ini dapat ditelaah dari sudut kebahasaan, informasi logis, pengontrolan pencitraan sensasi wacana-informasi dan menggali ciri khas desain produk lokal. Ini sangat penting sebagai bekal pembentukan kecintaan masyarakat konsumen terhadap produk lokal. Sisi positif yang muncul adalah mampu membentuk sistem defensif bagi masyarakat secara pribadi terhadap persaingan global akibat masuknya produk impor. Dampak selanjutnya, pemikiran masyarakat akan terbuka dari belenggu budaya populer. 
Untuk lebih mengefektifkan langkah tersebut ada beberapa langkah yang perlu dilakukan. Pertama, pemerintah patut mengampanyekan bahwa ukuran prestise tidak dapat dikaitkan dengan produk impor. Sebab, prestise hanya akan mengakibatkan derajat diri semakin terbelenggu pada produk impor. Dalam era mondial sekarang ini, mencintai produk lokal merupakan bagian moralitas untuk turut berpartisipasi bagi pengembangan peradaban ekonomi-politik. Ini dimakdsudkan agar masyarakat tidak terperangkap dalam citra global mengenai produk-produk impor. Tentu saja pembentukan gagasan melalui proses gambaran opini publik yang ringkas di sekitar pembentuk diri masyarakat konsumen. Tak terkecuali di sudut pertokoan sebagai penggugah refleksifitas masyarakat konsumen terhadap kondisi produk nasional. 

hal. 20 
--------------------------------------------------------------------------------------------------------------------- 

Kedua, desain ciri khas produk lokal perlu digali lebih dalam. Sebab, tidak menutup kemungkinan terjadi manipulasi perdagangan yang dilakukan negara luar dengan ‘mengekspor ulang’ produk-produk lokal. Sementara, pada saat yang bersamaan, masyarakat kurang mengetahui masalah tersebut. Oleh karena itu, wawasan kebutuhan masyarakat perlu diarahkan dengan merumuskan standar desain ciri khas produk lokal. Selain dimaksudkan sebagai bentuk jaminan kepercayaan terhadap kualitas produk juga membentuk rasionalitas masyarakat. 
Ketiga, agar penerapan tidak sebatas pada tataran wacana pemerintah perlu menyatukan pandangan dengan pelaku industri dan pakar-pakar di bidang, sosiologi, budaya, politik, psikoanalisis, komunikasi, filsafat, insan pers, terutama ekonomi. Tujuannya adalah merumuskan landasan serta bentuk komunikasi efektif-ideal seiring pengaruh budaya populer agar kesadaran masyarakat semakin tergugah kesadarannya bahwa membeli produk lokal memiliki andil besar dalam mengarahkan perekonomian nasional di masa depan. Setidaknya, ada acuan khusus menjadi budaya tersendiri yang kemudian tanpa disadari masyarakat mempraksiskan dalam perilaku sehari-hari. Dalam perkembangannya, gairah menumbuh-kembangkan industri pasar domestik didukung kondisi persaingan yang kondusif bukan utopia semata. 
Bila penerapan itu dapat dilaksanakan dan diterima oleh masyarakat kedatangan produk-produk impor bukan lagi menjadi ancaman. Melainkan lebih merupakan “jebakan” semakin matangnya kesadaran masyarakat terhadap pembacaan dan rasionalitas nilai asli. Dengan demikian, sistem pembacaan nilai 

hal.21 
--------------------------------------------------------------------------------------------------------------------- 
asli mampu menjawab arah kebijakan sektor masa depan ditengah kemandirian otonomi daerah. Pada gilirannya, gairah perekonomian nasional akan meningkat seiring dengan kepercayaan-kecintaan masyarakat konsumen terhadap produk lokal atau dalam negeri yang telah menjadi tuan rumah di negeri sendiri. 













hal.22 
--------------------------------------------------------------------------------------------------------------------- 
DAFTAR PUSTAKA 

Chaniago, A. Andrinof. 2002. Gagalnya Pembangunan. Jakarta: LP3S. 
Feathersone, Mike. 2002. Posmodernisme dan Budaya Konsumen. Jakarta: Pustaka Pelajar: 
Fukuyama, Francis. 2002. The Great Disruption. Yogyakarta: Qalam. 
Heiddeger, Martin. 2000. Being and Time. Bassil Blackweel. England: Oxford. 
Husserl, Edmund dalam George Ritzer. 2003. Teori Sosial Posmodern. Yogyakarta: Kreasi Wacana. 
Kukla, Andre. 2003. Konstuktivisme Sosial dan Filsafat Ilmu. Yogyakarta: Jendela. 
McQuail, Denis. 2005. Teori Komunikasi Massa. Jakarta: Erlangga. 
Schmand, J. Henry. 2003. Filsafat Politik: Kajian Historis Dari Zaman Yunani Kuno Sampai Zaman Modern. Yogyakarta: Pustaka Pelajar: 
Toffler, Heidi dan Aflin. 2002. Menciptakan Peradaban Baru: “Politik Gelombang 
Ketiga”. Yogyakarta:Ikon Terlitera. 

Media Massa dan Internet. 
Jurnal Ekonomi Rakyat, 2005. “Liberalisasi TPT dan Jalan Sutra Bagi Cina”. Majalah Jurnal Ekonomi Rakyat. Tahun 2005/Tanggal 03 bulan Mei: Jakarta. 

hal.23 
--------------------------------------------------------------------------------------------------------------------- 
Kompas, 2003. Kolom Pemberitaan Bisnis dan Keuangan: “Kebanggaan Terhadap Produk Lokal Menurun. Harian Umum Kompas. Tahun 2003/ Tanggal 19 Bulan Mei: Jakarta. 
Kompas, 2006. Kolom Pemberitaan Bisnis dan Keuangan: “Ekspor Mei Tertinggi“. Harian Umum Kompas. Tahun 2006/ Tanggal 04 bulan Juli: Jakarta. 
Majalah Nakertrans. 2006. “Ukuran Produktivitas Sudah Bertambah”. Majalah Nakertrans. Tahun 2006 / Tanggal 01 bulan Februari: Jakarta. 

Websites: 
http://www.asiamedia.ucla.edu. “Liputan Kecil Media terhadap Kesalahpahaman Dalam Angka Perdagangan Bilateral Indonesia dan Singapura”. Diakses tgl. 5 juli 2006. 
http://www.ibexi.co.id. “Menunggu Sunrise di Pantai Garmen”. 
Diakses tgl. 12 Juli 2006. 
http://www.suaraekonomirakyat.go.id. “Komoditas dan Produk Lokal di mata 
Asing”. Diakses tgl. 12 Juli 2006. 





hal.24 
--------------------------------------------------------------------------------------------------------------------- 
DAFTAR RIWAYAT HIDUP (Sengaja dirahasiakan oleh penulis) 

Nama : BETA CHANDRA WISDATA 
Tempat/Tgl. Lahir : xxxxxx/xxxxxxxx 
Alamat rumah : XXXXXXXX 
Alamat E-mail : xxxxxxxxxxxxx 
No. Telp. : xxxxxxxxxxxxx 
Lain-lain : Beta Chandra Wisdata adalah penulis lepas di media massa baik lokal maupun nasional yang tertarik pada masalah politik. Di samping itu, aktif menulis puisi 








hal.25 
--------------------------------------------------------------------------------------------------------------------- 
PERNYATAAN (sengaja dirahasiakan oleh penulis) 

Yang bertanda tangan disini. 
Nama : Beta Chandra Wisdata 
Tempat/tanggal lahir : xxxxx/xxxx 
Menyatakan dengan sebenarnya bahwa karya tulis ilmiah ini adalah karya asli. Bukan karya plagiat atau bajakan dan belum pernah dimuat di media atau jurnal apapun. 


Materai 
ttd : Beta Chandra Wisdata 


hal.26 

------0------- 
Direct Version : 



This write publish for science spread purposes, had a copyrigth writer and alright reserveds 

--------------------------------------------------------------------------------------------------------------------- 
THANKS TO THE MEDIA THAT PUBLISHED AUTHOR THINKING RESULT. WITH ALL HONOUR AND RESPECT. 
BEST REGARDS, 
BCW. 

http://www.muhklis.com/2014/01/siapa-saya.html


 

  © Blogger template 'ASIK-For You' by uc1n.com Blog For Dhono-wareh Blog Karya tulis Ilmiah dan Makalah 2012

Blog Karya tulis Ilmiah dan Makalah